Review Buku : Berjalan di Atas Cahaya

Review Buku : Berjalan di Atas Cahaya



Ini postingan pertama saya di tahun 2016. Berhubung lagi gak ada topik bahasan, saya mau review buku yang kemarin habis saya baca gara-gara ditinggal suami selama liburan huhuhu :( . Sebelum suami masuk kerja kami jalan-jalan dulu ke Toga Mas Affandi (pusat) Yogya dan jeng..jeng...lagi diskon 30%!! Wah kami langsung gelap mata, maklumlah, semenjak pindah ke perbatasan Yogya-Solo kami jadi jarang nengok toko buku. Makanya waktu kemarin ada kesempatan, langsung deh kalap hehe.

Okay segitu dulu prolog-nya hehe, 

Buku yang saya baca kali ini adalah buku-nya Mbak Hanum Rais yang judulnya "Berjalan di Atas Cahaya". Bisa dibilang buku ini adalah buku "behind the scene"-nya cerita 99 Cahaya di Atas Langit Eropa dan Bulan Terbelah di Langit Amerika. Buku ini tidak hanya berisi cerita-nya Mbak Hanum, tapi juga beberapa cerita dari Mbak Tutie Amaliah dan Mbak Wardatul Ula

Cerita dibuka oleh Mbak Hanum yang sedang kebingungan karena mendapat tugas liputan ke Eropa dengan budget terbatas. 3000 USD untuk 3 orang selama 18 hari!! Tentu saja secara logika, budget ini tidak akan cukup untuk semua. Apalagi Eropa terkenal sebagai benua termahal di dunia. Namun akhirnya Allah memberikan jalannya, dengan menggunakan "investasi sosial" yang dulu Mbak Hanum tabung selama 3 tahun hidup di Eropa, liputan itu akhirnya bisa terlaksana juga. 

Cerita dilanjutkan dengan pengalaman Mbak Hanum meliput kehidupan islam di Eropa. Disana dia bertemu dengan berbagai macam muslimah unik yang memperjuangkan cahaya Islam di Eropa. Mulai dari Nur Dann seorang rapper muslimah, kemudian Bunda Ikoy satu-satunya wanita berjilbab pembuat jam tangan Swiss yang mendunia. Tidak hanya para muslimah yang berhasil Mbak Hanum temui, namun banyak juga orang-orang non-islam yang memiliki cahaya Islam di hatinya. Mereka banyak membantu Mbak Hanum dan kru selama di Eropa.

Selanjutnya ada juga cerita dari Tutie Amaliah, yang menceritakan kehidupannya menemani sang suami sambil berkuliah juga. Bukan perjuangan mudah untuk menjadi mahasiswa, sekaligus istri, dan ibu bagi anak-anaknya. Dia harus menyempatkan diri untuk shalat di tengah waktunya yang sempit, sehingga ia kehilangan waktu mengobrol dengan teman-temannya. Saat teman-temannya masih bisa santai untuk sekedar nongkrong di kafe saat kuliah, Mbak Tutie harus cepat-cepat pulang ke rumah untuk mengurus anak-anaknya. Namun sayangnya, kesibukan Mbak Tutie ini malah meninggalkan kesan buruk di mata teman-temannya. Secara otomatis mereka menyangkut pautkan Islam dengan sikan Mbak Tutie. Alhamdulillah, pada akhirnya Mbak Tutie bisa membalas semua prasangka negatif teman-temannya dengan mendapatkan nilai tertinggi. 

Sebagai pelengkap cerita lainnya, Wardatul Ula menceritakan perasaannya saat hendak meninggalkan Aceh, tanah kelahirannya juga kisah perempuan-perempuan Bosnia yang memutuskan berhijab saat di asrama. Cerita ditutup oleh Mbak Hanum dengan kisah menarik lainnya yang membuat kita merasa sayang kalau cerita harus berhenti disini.

Tidak terasa saya sudah menyelesaikan buku ini. Halamannya tergolong tipis, hanya sekitar 200 halaman, tapi isinnya benar-benar luar biasa. Bahasa yang digunakan dalam buku ini benar-benar ringan dan komunikatif, sehingga membuat saya semakin terpikat dengan ceritanya. Buku ini sangat recommended bagi orang-orang yang sedang mencari inspirasi atau sekedar ingin membaca ringan. Terutama bagi orang-orang yang suka traveling, buku ini benar-benar saya rekomendasikan.  Semoga suatu saat nanti saya bisa menjadi salah satu orang yang menyaksikan sendiri cahaya itu. Selesai membaca buku ini, saya hanya bisa takjub dan terkagum. Meskipun hanya setitik, tapi kita masih bisa menemukan cahaya Allah di tengah benua se-liberal Eropa. Amiin

Labels