Review Buku : Ayat-ayat Cinta 2

Review Buku : Ayat-ayat Cinta 2


Sekitar 5 atau 6 tahun yang lalu, saya sempat kena virus nikah muda gara-gara novel yang ditulis oleh Habiburrahman El-Shirazy. Apa lagi kalau bukan Ayat-Ayat Cinta 1 (AAC 1) . Novel ini berhasil membuat saya pengen nikah muda, padahal saya baru kelas 2 SMA waktu itu *tepok jidat*. Novel ini juga membuat saya pengen kuliah di Mesir atau minimal dapet suami lulusan Mesir haha. Maklumlah tokoh Fahri yang digambarkan waktu itu sempurna banget! Dan saya sebagai seorang gadis polos nan lugu yang belum tahu asam, manis, asinnya kehidupan jadi mendambakan seorang suami seperti Fahri haha.

Dan sekarang saya sudah bersuami, Kang Abik menerbitkan novel lanjutan AAC 1, Ayat -Ayat Cinta 2 (AAC 2). Penasaran dengan lanjutan kisah Fahri dan Aisha saya pun membeli novel ini, meskipun harganya rada nyekak kantong, Rp. 95.000. Eh untung ada diskon 30% dari Toga Mas, tancap bang!!! Sebelum saya lanjut ke AAC 2, saya mau kasih sinopsis dari AAC 1 dulu, sekalian nostalgia hehe.

Sinopsis AAC 1

Fahri adalah seorang mahasiswa asal Indonesia yang sedang kuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Fahri digambarkan sebagai mahasiswa Indonesia yang cerdas, taat dan sholeh. Dia seorang hafidz dan belajar mengaji langsung dari Syaikh yang sangat terkenal di Mesir. Karena kelebihannya itulah banyak perempuan yang tergila-gila padanya. Mulai dari Nurul, ketua PPI Mesir yang mengirimkan surat cinta padanya. Aisha, gadis Turki yang cantik dan sholihah, sampai Maria tetangga flat-nya yang menganut agama kristen koptik. Setelah melalui perjalanan dan proses panjang, akhirnya Fahri menikahi Aisha, namun kemudian dia juga menikahi Maria yang meninggal setelah dinikahi Fahri.Penasaran? Baca sendiri aja ya hehe

AAC 2

Kita lanjut ke AAC 2, saat ini Fahri tinggal di Edinburgh dan menjadi dosen di University of Edinburgh. Sayangnya, Aisha tidak ada disampingnya. Kemana Aisha??? Menurut cerit, Aisha hilang di Palestina ketika pergi bersama temannya untuk mencari inspirasi membuat novel. Kemudian terdengar kabar bahwa teman Aisha tewas secara mengenaskan di pinggiran kota Israel, sementara Aisha belum juga diketahui nasibnya. Fahri pun melanjutkan hidup tanpa Aisha sambil memendam kerinduan yang sangat dalam pada Aisha. 

Fahri mengisi hari-harinya dengan mengajar dan mengurusi bisnis. Sementara itu tawaran-tawaran untuk menikah lagi mulai berdatangan. Beberapa wanita mulai masuk kehidupan Fahri, mulai dari Heba, mahasiswinya di universitas. Hulya, sepupu dekat Aisha. Keira, penganut kristen yang bermimpi ingin menjadi pemain biola terkenal dan juga Sabina, gadis misterius berwajah buruk yang menjadi pengemis di Edinburgh. Pada akhirnya Fahri memutuskan untuk menikah dengan salah satu gadis yang berhasil masuk ke dalam hidupnya. 

Kehidupan Fahri pun mulai menghangat setelah menikah, namun kebahagiaannya mulai terusik karena suatu musibah yang menimpanya. Di saat itulah dia menemukan Aisha yang ternyata selama ini hidup dekat dengannya. Dimana Aisha? Kemana di selama ini? Silahkan temukan jawabannya di novel AAC 2 :D

Selain kisah cinta Fahri, novel ini juga menceritakan tentang kehidupan dan interaksi Fahri dengan kehidupan sosialnya. Topik utama dalam novel ini adalah Islamophobia, diceritakan dalam novel ini bagaimana orang Kristen dan Yahudi di sekitar Fahri sangat membenci Fahri, namun sebagiannya lagi ada juga yang menyukainya. Tidak lupa dalam novel ini diselipkan debat-debat teologi agama antara Kristen, Yahudi, Atheisme yang cukup berat dan membuat saya sedikit kehilangan fokus, sampai saya harus membacanya 2 kali. Konflik Israel dan Palestina pun tidak luput jadi bahasan dalam novel ini. 

Disini saya menilai sosok Fahri sebagai sosok yang sangat sempurna tanpa cela. Dia jenius, cerdas, rajin, taat, sholeh, baik hati, pandai dan segudang lainnya yang membuat saya berpikir "apa ada manusia macam gini di dunia?". Fahri juga digambarkan sebagai sosok kaya yang punya banyak uang, dengan uang tersebut dia banyak membantu tetanganya untuk bersekolah dan membeli rumah. Lagi-lagi saya bertanya-tanya "kok bisa ya, jadi kaya di Eropa??" . Yah, tapi saya mencoba ber-husnudzon saja, kalau semuanya mungkin asal Allah berkehendak. Sesuai mottonya "novel pembangun jiwa", novel ini cukup bisa membangunkan jiwa "kecuekan" saya. Bahwa segala sesuatunya pasti mungkin terjadi asal Allah berkehendak. Bahwa tidak semua hal harus sesuai dengan rencana dan logika kita sebagai manusia. Saya mencoba ambil hikmahnya dan menjadikan Fahri sebagai motivasi *bukan motivasi mencari suami lagi loh ya :D

Buku setebal 700 halaman ini, layak untuk dibaca. Terutama kalau kita lagi selo dan gak banyak beban pikiran, karena buku ini benar-benar mengajak kita untuk berpikir dalam. Buat kalian penggemar Kang Abik dan pengagum kisah cinta Fahri dan Aisha buku ini harus dibaca. Selamat membaca!!!

Labels