Saya Terbakar Amarah Sendirian
Saya pertama kali membaca buku ini pada saat kelas 3 SMA, mungkin sedikit terlambat, tapi tak apa, lebih baik daripada tidak sama sekali :)
Buku ini berisi 12 bagian wawancara diantaranya adalah :
- Wawancara di Jakarta
- Sebelum 1965 : Sejarah, Kolonialisme, Dan Soeharto
- Kudeta 1965
- Masa Penahanan
- Budaya dan Jawanisme
- Karya Sastra
- Soeharto, Rezimnya, dan Indonesia Saat ini
- Timor Leste dan Aceh
- Keterlibatan Amerika Serikat
- Rekonsiliasi ?
- Revolusi : Masa Depan Indonesia
- Sebelum 1965 : Sejarah, Kolonialisme, Dan Soeharto
- Kudeta 1965
- Masa Penahanan
- Budaya dan Jawanisme
- Karya Sastra
- Soeharto, Rezimnya, dan Indonesia Saat ini
- Timor Leste dan Aceh
- Keterlibatan Amerika Serikat
- Rekonsiliasi ?
- Revolusi : Masa Depan Indonesia
Buku ini juga menceritakan tentang semua pengalaman, keluh kesah Pram terhadap kondisi bangsa ini. Menurutnya dalam memperbaiki bangsa maka kaum mudalah yang harus bergerak. Tentunya saya sangat setuju akan hal ini, kaum muda memang harus bergerak, tetapi kaum muda yang memiliki prinsip.
Pada umumnya saya sangat terkesan dengan pemikiran cerdas Pramoedya, sehingga membuat saya tergila-gila pada karangannya dan segala hal yang berhubungan dengan sejarah dan budaya bangsa Indonesia. Namun hal yang saya kurang suka dari pandangannya adalah, sedikit pandangan negatif tentang agama yaitu "Agama hanya mengajarkan orang mengemis" dan "Tolong tunjukkan dimana keadilan Tuhan". Menurut saya, sebagai seorang sosialis Pram hanya melihat dari kaca mata sosialismenya saja, hakikat adil menurut manusia tentu berbeda dengan hakikat adil menurut Tuhan. Mengemis kepada Tuhan tentu beda, jika kita mengemis kepada Manusia, karena Tuhan tau apa yang manusia butuhkan, bukan yang manusia inginkan.
Terlepas dari itu semua, buku ini sangat menarik, dan cukup membuka mata saya, ide-ide revolusionernya bisa dikatakan cerdas, bahkan buku ini mendapatkan sambutan hangat dari Noam Chomsky, salah satu linguist dunia. Buku ini harus menjadi buku bacaan wajib bagi semua rakyat Indonesia