Motivasi Bersama Prof. Dr. Aliyah Rasyid Baswedan : Bagaimana Cara Mendidik Anak Agar Menjadi Mentri?
Hari Sabtu minggu lalu, sekolah saya mengundang Ibu Aliyah Rasyid Baswedan untuk memberikan motivasi pada kami para guru. Siapakah Ibu Aliyah Rasyid Baswedan? Yap sudah pasti ketebak ya, kalau beliau adalah ibunda Mentri Pendidikan kita, Bapak Anis Baswedan. Ibunda yang sering disebut-sebut dan sangat dicintai oleh Pak Anis. Saat ini Bu Aliyah masih menjadi guru besar UNY. Meskipun sudah sepuh, beliau masih sangat energik dan semangat dalam menyampaikan motivasinya.
Pembukaan dimulai dengan tampilan slideshow (jadi kangen kuliah hihi) tentang tugas-tugas sebagai guru, kewajiban dan tanggung jawab. Sampai sini motivasi masih datar karena masih teori. Selanjutnya Ibu Aliyah juga menjelaskan bahwa sebagai guru kita jangan hanya menyelesaikan kewajiban mengajar saya. Masuk kelas, sampaikan materi, terus pulang. Sebagai guru, seharusnya kita mengajar penuh dengan tanggung jawab. Nah, bagaimana mengajar dengan penuh tanggung jawab itu? Menurut Ibu Aliyah kita harus mengajar dengan penuh keyakinan bahwa ilmu yang kita ajarkan akan bermanfaat di dunia dan akhirat. Waw, semakin tertarik dengan motivasinya :D
Ibu Aliyah melanjutkan bahwa salah satu indikator, pendidikan dan pembelajaran yang baik adalah :
1. Siswa menikmati belajar
2. Guru menikmati mengajar
3. Siswa merasa tertantang untuk belajar lebih banyak
Hemmt, saya sudah kaya gitu belum yaa? *refleksi diri sendiri
Kita harus bisa menjadi guru yang inspiratif dan mengesankan. Jangan hanya menyampaikan materi, tapi juga bisa memotivasi siswanya. Sebagai guru, kita juga harus mendorong anak-anak untuk tidak terus belajar dalam kelas. Tetapi juga mendorong mereka untuk ikut organisasi, lomba, komunitas dll. Ibu Aliyah mengibaratkan kalau murid-murid itu harus seperti kereta Shinkasen. Tau kan kereta Shinkasen? Kereta asal Jepang yang terkenal dan (katanya) Indonesia juga akan segera punya (Amiiiin, semoga gak PHP :p ).
Dalam setiap gerbong kereta Shinkasen terdapat otak mesin dan otot mesin. Keduany bekerja sama sehingga menghasilkan kecepatan yang sangat hebat. Nah, murid-murid juga harus seperti kereta Shinkasen, mereka harus memiliki Brain Memory dan Muscle Memory. Brain Memory merupakan teori/pengetahuan yang melekat pada otak mereka, sedangkan Muscle Memory adalah skill-skill lain yang bisa didapat dari pembelajaran di luar kelas. Contohnya belajar bernegosiasi, bicara di depan publik melalui organisai.
Dalam setiap gerbong kereta Shinkasen terdapat otak mesin dan otot mesin. Keduany bekerja sama sehingga menghasilkan kecepatan yang sangat hebat. Nah, murid-murid juga harus seperti kereta Shinkasen, mereka harus memiliki Brain Memory dan Muscle Memory. Brain Memory merupakan teori/pengetahuan yang melekat pada otak mereka, sedangkan Muscle Memory adalah skill-skill lain yang bisa didapat dari pembelajaran di luar kelas. Contohnya belajar bernegosiasi, bicara di depan publik melalui organisai.
Sebenarnya masih banyak yang dipaparkan oleh Ibu Aliyah Rasyid Baswedan, tapi kalau diceritakan semuanya bisa 1 buku sendiri hihi. Kita lanjut ke sesi tanya jawab saja yang paling ditunggu-tunggu. Kali ini ada 2 penanya (termasuk saya hehe). Pertanyaan saya sih simple, soal administrasi guru yang bikin njlimet dan mandeg!
Saya : "Ibu, bagaimana saya bisa menjadi guru yang inspiratif dan mengesankan kalau saya masih harus terbebani dengan buku guru/administrasi guru?"
Ibu Aliyah : "Bukan hanya anda saja yang mengeluh seperti itu, hampir semua guru di Indonesia mengeluhkan hal yang sama. Hal ini sudah sampai ke Pak Mentri dan Insyaallah sedang di proses untuk dikurangi bebannya. Jadi mohon bersabar "
Saya sorak-sorak kegirangan dalam hati. Iyeeey, semoga habis ini Bu Aliyah langsung telpon Pak Anis dan bilang agar Buku Guru dihapuskan, jadi pas deadline buku guru saya gak harus ngumpulin *ngarep.com
Pertanyaan lainnya adalah pertanyaan yang bikin geger dan seru dari guru PKN
Guru PKN : "Ibu bagaimana caranya mendidik anak agar bisa menjadi mentri?"
Ibu Aliyah : "Sebenarnya saya tidak pernah mentargetkan anak saya jadi mentri ataupun presiden. Kalau ada yang jadi mentri itu hanya kebetulan saja. Tapi saya berusaha sebaik mungkin untuk menjadi Ibu terbaik bagi anak-anak saya.
Saya meyakini bahwa surga ada dibawah telapak kaki Ibu, oleh karena itu saya juga harus menjadi Ibu yang terbaik bagi anak-anak saya. Saya percaya bahwa pendidikan dimulai sejak dalam kandungan. Saat saya hamil, saya selalu mencoba berfikir positif dan bahagia. Ketika anak saya lahir, saya percaya bahwa pendidikan dimulai dari umur 0-1 tahun.
Jika saat umur 0-1 tahun anak merasa aman dan nyaman, maka dia akan merasa aman dan nyaman sepanjang hidupnya. Saya tanamkan pada mereka bahwa mereka punya pelindung yaitu Allah, jadi jangan takut untuk terus mencoba sesuatu yang baru. Sesibuk apapun saya, saya akan berusaha memprioritaskan anak-anak agar mereka tahu ada Ibu yang selalu ada untuknya.
Ketika mereka menginjak SD, saya tidak pernah menyuruh mereka untuk selalu harus ranking 1. Saya ingin mendidik dengan seimbang, tidak hanya pintar secara akademik tetapi juga secara sosial. Oleh karena itu saya dorong mereka untuk ikut organisasi dan komunitas"
Wah rasanya senang sekali mendapat pencerahan seperti itu dari Ibu Aliyah. Pas banget saya kan lagi hamil jadi saya pengen ngikutin cara Bu Aliyah, siapa tau anak saya jadi presiden besok hihi. Motivasi dari Ibu Aliyah benar-benar menginspirasi dan memberikan saya semangat untuk terus berusaha menjadi guru yang baik, mengesankan dan inspiratif. Juga menjadi ibu terbaik bagi anak-anak saya besok. Terimakasih Ibu Aliyah :)



