Afwan Akhi, Dakwahnya Bisa Pake Hati Enggak?

Afwan Akhi, Dakwahnya Bisa Pake Hati Enggak?


Kami adalah perempuan yang lembut hatinya hiks :( *gak nyambung
sumber : http://kartundakwahislam.blogspot.com/

Tiba-tiba saja teman saya datang dengan muka cemberut dan langsung duduk di sebelah saya. Waktu itu memang kami janjian mau nyoto bareng di deket kampus. Melihat wajahnya yang udah kelipet-lipet kayak kertas surat, saya jadi penasaran

Saya : �Kamu kenapa e?�

Dia : �Kamu tau gak si ****** ?�

Saya : �Iya tau, kenapa?�

Dia : �Aku tau sih kalau dia itu alim dan pengen menjaga, tapi gak segitunya kali�

Hemmt, sepertinya saya sudah bisa nebak dia kenapa.
Dia : �Tadi kan anak-anak kelas lagi duduk depan lab tuh, aku kan mau ikutan. Nah kursi yang kosong kebetulan cuma disamping dia. Begitu aku duduk dia langsung jengat coba, kayak jijik gitu sama aku�

Saya cuma nyengir kuda, sebenarnya dalam hati saya menertawakan nasib ngenes temen saya itu hahaha.

Dia : � Dikira aku tuh a*****g atau b**i kali ya jadi najis gitu� (Sambil emosi)

Saya tambah ngakak sambil berusaha menenangkan teman saya �Udah lah gak usah dipikirin, gak baik juga ngomong gitu. Dia kan emang prinsipnya gitu. Nyoto aja deh, kalau marah-marah terus tambah tua nanti�

Masih dengan muka cemberut, saya menyeret teman saya ke warung soto.

Pernah mengalami hal itu? Saya pernah juga. Bedanya, kalau teman saya itu marah-marah di belakang, kalau saya langsung semprot orangnya. Akhirnya perdebatan saya malah kaya bola dunia, gak ada ujungnya. Dengan kekeuhnya, orang yang saya semprot itu bilang : �Aku gak peduli orang lain mau ngomong apa atau gimana yang penting aku menegakkan syari�at�

Hemm, syari�at ya? Berat juga sih bahasannya, apalagi saya ini orang awam masalah agama. Di tulisan ini saya belum bisa berpendapat atas nama �syari�at�, tapi atas nama cinta *eh �hati manusia�.

Oke lah akhi yang dirahmati Allah, saya sadar sesadar-sadarnya kalau kita memang harus menjaga jarak dan pergaulan dengan lawan jenis. Kalau saya keluarin dalil-dalilnya kayaknya antum pasti lebih tahu ya. Saya juga paham betul kalau antum sangat ingin memegang teguh prinsip dan menegakkan syari�at yang antum pahami. Tapi please akhi, apa harus bikin kami bagai butiran debu? (*baca sakit hati)

Pada prinsipnya manusia itu suka dihargai, termasuk saya dan antum. Saya yakin antum ingin prinsip menjaga antum di hargai. Begitu juga dengan prinsip orang lain yang berbeda dengan antum. Saya gak akan nyuruh antum buat menghilangkan prinsip antum. Silahkan tetap dijaga dan dan dipertahankan, tapi bisa kan caranya yang di perhalus lagi?

Gini deh akhi, sebagai manusia normal, siapa sih yang gak akan sakit hati kalau tiba-tiba dijauhi begitu sama antum? Seolah kami itu kena penyakit menular atau lebih parahnya lagi bagai binatang haram. Mungkin kalau antum berbuat begitu sama para akhwat yang punya pemikiran dan prinsip sama gak jadi masalah, tapi gimana dong dengan kami para akhwat yang masih awam agama? Yang ada sih cuma sakit hati, inget loh sakit hati itu membekas.

Masih inget kan film Ketika Cinta Bertasbih ketika Azzam menolak French Kiss dari Elena? Disitu Elena juga sakit hati, padahal Azzam udah bilang baik-baik dan dengan bahasa yang halus. Nah gimana kami yang dijauhin mendadak begitu? Setahu saya Rasulullah juga berdakwah dengan halus dan lemah lembut loh, bahkan kepada orang-orang nasrani sekalipun. Kecuali kalau orang yang didakwahi bebal banget, baru Rasulullah berdakwah dengan cara yang keras. Nah, apakah kami termasuk yang bebal? *kalau iya maka marahilah kami sepuasnya :D

Akhi yang baik, kayaknya lebih enak kalau antum cari cara yang lebih halus lagi kalau memang harus �tiba-tiba� menjauh dari kami. Misal, menjauhnya pelan-pelan saat kami yang duduk di sebelah antum lagi gak sadar. Bisa juga memang sedari awal antum kasih tuh tas ransel di samping antum, biar kalau ada cewek yang tiba-tiba duduk di sebelah gak bikin antum kaget. Pokoknya gimana lah cara antum yang tetap bisa menghargai dan menjaga perasaan kami.Nah setelah itu antum bisa jelaskan ke temen antum yang cewek, kalau antum punya prinsip yang begini dan begitu. Lebih bagus lagi dengan bahasa yang halus dan lemah lembut. Dengan begitu kami lebih enak nerimanya, malah mungkin bisa tertarik dengan prinsip akhi. 

Saya bukannya benci dengan prinsip akhi, justru saya sangat terkesan dan kagum. Suatu saat saya juga pengen seperti itu. Bisa memegang teguh prinsip yang sesuai syari'at. Tapi sangat disayangkan kalau prinsip yang baik itu di salah artikan. Niat yang baik, kalau disampaikan dengan cara yang kurang tepat bisa dianggap gak baik. Kan enak kalau kami dikasih tahunya dengan halus dan lemah lembut. Hati kami jadi gampang terbuka dan gak apatis sama antum. Sukses terus buat akhi, semangat terus dalam memperjuangkan agama Allah. Semoga Allah selalu meridhai jalan antum dan semoga akhi baca ya J

*Curhat waktu masih zaman-zaman kuliah, 3 tahun yang lalu :D


Labels