Maafkan Guru ya, Nak

Maafkan Guru ya, Nak


Menjadi guru untuk murid-murid yang masih kecil seperti SD kelas 1,2,3 atau TK memang memiliki tantangan tersendiri, karena selain mengajarkan ilmu kita juga harus menyisipkan pendidikan karakter pada murid-murid tersebut. Kita harus tahu betul bagaimana psikologis anak-anak, metode mengajar yang tepat, kapan kita harus memberi hukuman pada mereka, hukuman apa yang mendidik pada mereka dan lainnya. Salah langkah dalam mendidik mereka bisa mengakibatkan rasa trauma, kebencian, dan ketakutan pada mereka.

Menurut saya, hal yang paling penting dan tidak boleh disepelekan dalam membimbing murid adalah masalah bahasa dan komunikasi. Saya sudah sering melihat banyak guru yang memiliki cara berkomunikasi yang kurang tepat dengan para murid, sehingga terkadang
diterima murid dengan arti yang berbeda. Banyak murid yang terkadang merasa seperti dipojokan guru, tidak di anggap, merasa trauma dan takut hanya karena cara berkomunikasi para guru yang kurang tepat. Hal seperti ini juga terjadi pada  anak-anak dengan usia dini, saya masih sering menemui beberapa guru yang memiliki cara komunikasi yang kurang tepat pada murid-murid usia dini dan mungkin termasuk saya.

Tahun ini saya mendapat kesempatan mengajar conversation Bahasa Inggris untuk anak-anak Phrattom 1 ( setara kelas 1 SD di Indonesia). Pelajaran conversation tentunya tidak mengharuskan anak-anak duduk diam dan menulis, sebaliknya pelajaran conversation lebih mengharuskan anak-anak untuk aktif dan mau berbicara. Oleh karena itulah pelajaran conversation saya isi dengan menyanyi, bermain game, dan aktifitas-aktifitas yang bisa membuat mereka berani berbicara.

Namun, mengelola kelas dengan anak-anak yang baru lulus TK tidak semudah ketika kita meminta anak-anak SMA untuk diam mendengarkan. Anak-anak masih suka bermain, belum menyadari pentingnya pelajaran untuk mereka, dan mereka masih senang mencoba-coba hal baru. Ditambah lagi kendala saya yang lain adalah kendala bahasa, susah sekali mengkondisikan kelas dengan bahasa yang belum mereka pahami. Jangankan dengan bahasa yang belum mereka pahami, terkadang dengan bahasa Ibu mereka saja mereka masih ada yang belum paham. Yah, namanya juga anak-anak #andalan hehe.

Beberapa kali di kelas saya ada anak yang menangis, entah karena dijahili temannya, karena merasa kecewa atau apa. Karena saya tidak bisa berbicara banyak dengan bahasa mereka, saya hanya bisa mengajak mereka duduk bersama saya dan saya rangkul sambil saya hapus air matanya. Terkadang saya ajak menggambar, atau saya ajak bercermin (kalau ada) sambil bilang "lo mai?" (cakep gak?), "mai gim,  mai lo" (gak senyum gak cakep), dan jalan terakhir saya gelitik mereka sampai mereka tertawa. Yah, bahasa ternyata sangat penting.

Hari ini, saya baru saja mengajar kelas Phrattom 1/3, karena jam mengajar saya jam terakhir suasana kelas ribut sekali. Saya mengajak mereka bernyanyi dan bermain game, hampir semua murid bernyanyi dan bermain game kecuali 5 orang murid laki-laki yang malah asyik ribut sendiri.

Saya datang dan memperingatkan mereka, dengan bahasa seadanya saya nasihati mereka untuk ikut bernyanyi. Awalnya mereka mau, tapi beberapa menit kemudian mereka ribut lagi. Duh, rasanya saya sudah tidak sabar lagi, akhirnya dengan sangat terpaksa saya mengambil tongkat rotan yang biasa dipakai guru disana untuk mendisiplinkan anak yang ribut. Sebenarnya saya tidak sampai hati menggunakan tongkat itu meskipun hanya untuk menakut-nakuti mereka, tapi saya sudah kehabisan ide.

Ternyata dengan tongkat itu tidak mempan juga, karena sudah bingung mau seperti apa akhirnya saya menyuruh mereka berlima maju kedepan dan menghukum mereka dengan hukuman zaman saya SD dulu. Angkat kaki satu dan tangan di telinga, berharap mereka mengerti maksud saya, lalu saya menjelaskan kepada seluruh kelas kalau mereka berlima itu tidak mau belajar dan akan terus berdiri seperti itu sampai pulang. Kemudian saya melanjutkan bernyanyi lagi bersama murid-murid lain, kelima anak tersebut malah berjoged ria. Ah, sudahlah namanya juga anak-anak batin saya.

Sampai ketika jam perpulangan, salah satu dari kelima anak yang dihukum tadi memohon  pada saya "Teacher,  phom pai ou num" (Teacher saya mau ambil susu). Kebetulan dia yang bertugas mengambil susu hari itu dan biasanya anak-anak bersemangat sekali kalau mendapat tugas itu.

"Mai thong" (Tidak boleh) Saya jawab, kemudian saya lanjutkan "Mai rian" ( Tidak belajar).

Dia terus memohon pada saya dan saya jawab dengan jawaban yang sama. Kemudian ada murid lain yang meminta pada saya untuk mengambil susu dan saya izinkan. Tiba-tiba murid yang tadi memohin pada saya menangis dan langsung memukul temannya, seolah-olah gara-gara temannya itulah dia dihukum dan tidak bisa mengambil susu.

Saya jadi merasa sangat bersalah melihat wajah kecewanya, lalu saya meminta maaf padanya dan bilang "sabdana rian, ou num dai okay?" (minggu depan belajar, boleh ambil susu) tapi dia masih terlihat kecewa. Rasanya saya ingin sekali bilang kalau dia itu tidak bersalah, tidak nakal, mau ribut boleh tapi kalau guru sedang berbicara diperhatikan ya, kamu itu anak baik dan pintar ,guru percaya dan sayang kamu. Tapi bahasa jadi kendalanya, semoga dia bisa mengerti dari pelukan saya tadi. Maafkan Bu Guru ya.

Labels