Anak-anak Buas
Tahun ini saya mendapat kesempatan untuk mengajar kelas 1 Phrattom, di Indonesia setara 1 SD. Ini kali pertama saya mendapat kelas kecil di SD, sebelumnya saya memang mengajar Anuban (TK) tapi hanya sebagai pelajaran tambahan dan bukan pelajaran formal. Ini benar-benar jadi tantangan saya, bagaimana caranya saya mengajar anak kelas 1 SD dengan bahasa yang berbeda? Kegiatan apa yang harus saya lakukan agar mereka tetap fokus pada pelajaran saya? Tapi saya yakin, seiring berjalannya waktu saya pasti bisa banyak belajar.
Pertemuan pertama dengan mereka saya isi dengan materi perkenalan dan pengenalan Alphabet yang kemudian dilanjutkan dengan menulis Alphabet tersebut. Pertemuan pertama berjalan dengan lancar, anak-anak masih antusias dengan saya karena saya adalah guru baru, tapi menjelang pertemuan kedua anak-anak mulai terlihat "buas" (Para guru disini menyebut "nakal" dengan "buas", sekilas tampak aneh karena di Indonesia "buas" hanya digunakan untuk binatang tapi lama-lama saya jadi terbiasa). Anak-anak mulai bertingkah semaunya sendiri, ada yang lari kesana kemari, memukul meja, main petak umpet, menggambar dan lain sebagainya, sampai saya geleng-geleng sendiri di buatnya.
Kesulitan yang saya alami ketika mengajar mereka adalah kendala bahasa. Saya sering kesulitan memberi instruksi pada mereka, bahkan meskipun sudah dibantu dengan bahasa tubuh mereka masih belum mengerti. Mereka juga sering sekali bertanya ini itu yang kadang tidak saya pahami sama sekali, padahal saya sudah bilang berkali-kali pada mereka Teacher, put pasa Thailand mai dai ( Teacher tidak bisa bahasa Thailand) tapi tetap saja mereka bertanya ini dan itu. Selain kendala bahasa, energi mereka yang berlebihan juga kadang membuat saya pusing sendiri, contohnya ketika kelas mulai ribut akan ada satu anak yang memukul meja dengan penggaris dan berteriak "Ngiaaaaappp" ( Diam ), tapi bukannya malah diam, anak-anak lain akan ikut memukul meja dengan penggaris dan ikut berteriak "Ngiaaaap...Ngiaaap..". Hasilnya kelas jadi ribut dari sebelumnya.
Selain kesulitan di atas, ada hal tambahan yang harus saya lakukan selain mengajar bahasa Inggris adalah memberi nama di buku mereka. Karena mereka masih kelas 1, mereka masih belum bisa memberi nama di buku mereka. Kalaupun buku tulis mereka diberi nama oleh orang tua masing-masing, itu pasti berbahasa Thailand dan tentunya saya tidak bisa membaca nama mereka. Biasanya, kalau di kelas yang lebih tinggi saya akan meminta murid untuk membacakan nama di buku itu, tapi karena ini mereka masih kelas 1, mereka masih kesusahan untuk membaca. Saya jadi harus bertanya satu-persatu pada mereka What is your name?, lalu menuliskan nama di buku mereka dengan tambahan "Conversation. Teacher Fitri".
Hal menarik lainnya yang kadang membuat saya tertawa sendiri adalah, karena mereka masih kelas 1 mereka suka sekali bertanya hal-hal yang sepele dan menggunakan bahasa Thailand yang kadang-kadang saya tidak paham artinya, seperti misalnya Teacher, kian nai? (Teacher tulis dimana? sambil menunjukkan bukunya atau Teacher kit mai?(Teacher bikin garis gak?) dan segudang pertanyaan lain yang membuat saya ingin tertawa sekaligus pusing. Terkadang kalau saya tidak paham, saya sering jawab kha...kha.. yang artinya iya. Pernah suatu ketika anak-anak saya suruh menggambar dan karena saya suara saya sudah habis saya hanya duduk saja, tiba-tiba datang seorang anak bertanya pada saya Teacher, wat lub mai?(Teacher digambar gak?), saya jawab kha.. (iya), beberapa menit kemudian dia datang lagi Teacher, wat lub nai? (teacher gambarnya dimana?) lalu saya tunjukkan bukunya dan dia kembali ke tempat duduknya. Beberapa menit selanjutnya, dia datang lagi dan bertanya Teacher labai si mai? (teacher diwarnai gak?) , saya jawab lagi kha.. sambil menahan tawa, duh lucunya!
Meskipun terkadang membuat saya pusing tapi anak-anak itu membuat saya senang. Dengan segala kelucuan dan kepolosan mereka, serta keterbatasan bahasa saya ternyata tidak menghalangi rasa cinta dan kedekatan yang tumbuh diantara kami. Senyum mereka selalu memotivasi untuk menjadi guru yang lebih baik dan baik lagi untuk mereka.
Hatyai, Thailand, 06 Juni 2014
With Love, Teacher Fitri
With Love, Teacher Fitri