Trip to Yala 1 - Departure and Arrival
Ketika pertama kali saya mendengar nama daerah "Yala, Pattani, Narathiwat" yang langsung terbayang dalam pikiran saya adalah "BOM dan Perang". Waktu saya diajak oleh teman saya main kesana, saya sempat deg-degan juga, apalagi banyak testimoni dari orang-orang Thailand sendiri yang bilang kalau 3 daerah itu tidak aman. Setelah melewati perenungan panjang *halah* akhirnya saya memutuskan untuk pergi kesana, asli penasaran banget, pengen liat daerah yang katanya lagi mencekam itu. Saya pengen ngerasain suasana perangnya, denger suara tembakan malem-malem, denger suara bom atau ambulan, gak lupa , sebelum kesana saya juga komat-kamit baca do'a minta keselamatan dari Allah, kalau saya ternyata ditakdirkan nginjek bom berarti emang udah jalannya saya. Semoga gak terjadi apa-apa Amin.......
Saya berangkat dari terminal Hat Yai, disana saya masih harus nunggu temen saya buat berangkat bareng, secara yang ngajakin kan dia masa saya bolang sendiri kesana hehehe. Lumayan lama juga saya nunggu di terminal, sampai saya bisa bolak-balik 2 kali ke seven eleven sambil nunggu temen saya. Akhirnya setelah 2 jam lamanya saya nunggu dia, dia nongol juga, tanpa basa-basi saya langsung cuss naik van. Yalaaa..... I'm coming !!!!.
Sepanjang perjalanan saya memutuskan untuk tidak tidur, padahal penumpang lain kayaknya asyik banget tidurnya, saya ingin menikmati perjalanan saya ke Yala, meskipun isinya cuma kayak perbatasan Jateng-Jabar sih, tapi asyik banget rasanya, karena saya sambil menbeak-nebak suasana kotanya hehehe. Van mulai masuk perbatasan Pattani, saya mulai mendapati tentara-tentara bersenjata yang sedang berjaga. Waw...suasananya tegang juga, tapi saya pura-pura stay cool aja padahal dalam hati gak berhenti do'a. Setelah melewati penjagaan saya mulai bisa melihat suasana kota di Pattani, 100% beda banget sama Hatyai. DI Hatyai kita bisa liat orang-orang dengan rambut warna-warni atau cewek-cewek pamer pahanya, tapi di Pattani sejauh kita memandang kita hanya bisa melihat cewek-cewek berjilbab hitam, berjubah dan tak jarang bercadar.
Secara otomatis, teman seperjalanan saya berkicau melihat keheranan saya, tanpa diminta dia mulai menjelaskan suasana di Yala, Pattani dan Narathiwat. Sebenarnya udah dari awal tadi kami ngobrol, tapi kebanyakan kami ngobrolin Indonesia, kebetulan dia juga asli Indonesia dan sedang melanjutkan studi di Yala Islamic University. Berdasarkan penjelasan teman saya yang satu itu, suasana di Yala, Pattani, dan Narathiwat gak jauh beda sama suasana di Aceh dan sekitarnya, kalo Aceh disebut Serambi Mekkah'nya Indonesia, maka Yala, Pattani dan Narathiwat disebut Serambi Mekkah'nya Melayu, bahasa yang digunakan juga di Yala juga Melayu, jadi kita yang orang Indonesia biasanya gampang beradaptasi, apalagi yang berasal dari Aceh.
![]() |
| Banyak motor dan suasana kota yang panas, maaf saya belum sempet dokumentasi waktu itu :( |
Setelah merasakan perjalanan 3 jam lamanya, akhirnya kami sampai juga di kota Yala, kami diturunkan di stasiun Yala untuk menunggu jemputan teman saya. Sekilas memang tidak jauh beda dengan kota Pattani tadi, banyak orang yang berjilbab, berjubah dan bercadar, saya serasa ada di Mekkah (padahal belum pernah kesana hohohoho). Cuaca siang itu panas sekali, ditambah banyak mobil, motor, tuktuk yang bersliweran, membuat suasana kota tambah panas saja, rasanya saya ingin cepat-cepat rebahan di kasur yang adem, 3 jam gak tidur membuat mata saya kriyep-kriyep sekarang.
Akhirnya yang kami tunggu datang juga, sebelumnya kami berkenalan singkat, teman baru kami namanya Mas Hasbulloh (kami panggil "Mas" karena dulu beliau kuliah di Yogya) dan sekarang menjadi dosen bahasa Melayu di Universitas Rajhabat Yala. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya kami ngobrol ngalor ngidul, kami yang lagi homesick waktu itu mulai kepo tentang pengalaman beliau waktu di Indonesia. Mulai dari makanan favorite di Indonesia, tempat-tempat yang pernah di kunjungi di Indonesia, pernah punya pacar orang Indonesia gak, lagu favorite, artis favorite dll.
Obrolan kami harus terhenti karena kami sudah sampai, wah sampai gak sadar hehehe. Mas Hasbulloh meminta maaf karena jauh-jauh datang ke Yala tapi ternyata cuma diajak ke kampung aja. Ah gak masalah mas, rumah saya lebih kampung dari ini hehehe. Saya mulai melancarkan aksi "observer" lagi, meskipun banyak pohon tapi cuacanya masih dibilang panas dan ternyata gak jauh beda dengan suasana di Indonesia, tapi lebih dingin di Indo hehehe. Di rumah kami disambut oleh istrinya Mas Hasbulloh, kami disuruh istirahat sebentar karena beliau akan mempersiapkan makan untuk kami. Kalau di rumah, gadis-gadis, Ibu-Ibu, dan perempuan suka memakai sarung persis di kampung saya, bedanya disini mereka pakai jilbab di kampung saya enggak hehehe.
Sambil menunggu kami dikenalkan dengan temannya Mas Hasbulloh yang juga sama-sama berkuliah di Indonesia, tapi mereka kuliah di Universitas Jember, namanya Arkom dan Rusli. Kami mengobrol dengan bahasa Indonesia, senang sekali rasanya seperti pulkam ke Indonesia hehehe. Setelah lumayan lama kami mengobrol, kami dipanggil untuk makan nasi Puluk, apa itu nasi Puluk? Saya akan cerita di postingan selanjutnya hehehe. Jadi keep reading yah hehehehe.
See u !!!
